HTV Music

HTV Music

by

heri setiawan gurgurem

Sci-Fi Adults

Di tengah kota futuristik yang dipenuhi dengan teknologi canggih, Dimas, seorang pria yang elegan dan berlogika tajam, berjuang menghadapi sifat-sifat berbeda dalam dirinya. Namun, semua yang ia alami...

Chapter

01

Ilusi Pertama

Kerlap-kerlip neon memantulkan cahaya di jalanan basah Kota Neo-Jakarta, tempat di mana gedung-gedung mencakar langit dan drone melayang seperti burung yang menari di antara awan. Di tengah kemegahan ini, Dimas melangkah dengan percaya diri, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi, seolah-olah ia adalah bagian dari konstelasi kota yang berkilau.

Malam itu, angin dingin berembus lembut, namun pikiran Dimas terasa lebih dingin. Ia adalah pria yang selalu mengandalkan logika, tapi akhir-akhir ini, logikanya sendiri terasa seperti musuh. Setiap keputusan yang diambilnya, setiap langkah yang diarahkannya, semuanya tampak tidak nyata, seolah ia hanya mengikuti naskah yang sudah ditulis sebelumnya.

Dimas berhenti di depan sebuah toko musik kecil yang sempit di antara raksasa-raksasa arsitektur. HTV Music, demikian tertulis di papan nama yang sudah mulai pudar. Tempat ini, meskipun tampak usang, menyimpan sesuatu yang memanggilnya kembali setiap malam. Dimas memasuki ruangan sempit itu, disambut oleh suara lembut piringan hitam yang berputar.

"Selamat malam, Pak Dimas," sapa seorang pria paruh baya yang berdiri di balik konter. Namanya Pak Arman, penjaga toko yang tampaknya tahu lebih banyak tentang musik daripada siapapun yang pernah Dimas temui.

Dimas mengangguk sambil tersenyum tipis, "Malam, Pak Arman. Ada sesuatu yang baru malam ini?"

Pak Arman mengangguk sambil tersenyum misterius. Ia mengeluarkan sebuah piringan hitam dari bawah konter, menampakkan sampul yang sama sekali tak dikenal oleh Dimas. "Ini baru datang hari ini. Suara yang unik, katanya bisa membawa kita ke tempat yang belum pernah kita kunjungi."

Dimas merasa tertarik. Ia mengambil piringan itu dan membawanya ke salah satu bilik kecil yang tersedia di sudut toko. Di dalam bilik, ia menyalakan pemutar piringan dan duduk. Musik segera mengalun, membawa suara yang seolah berbisik langsung ke dalam jiwanya.

Suara-suara itu, melodi yang bergema, membawa Dimas ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya berdiri di padang rumput hijau luas, di bawah langit biru yang tak terbatas. Namun, di tengah pemandangan yang menakjubkan ini, ada sesuatu yang terasa salah. Setiap langkah yang diambilnya, rumput di bawah kakinya terasa tidak nyata, seperti berjalan di atas bayangan.

Dimas mencoba mengendalikan pikirannya, mencari logika di balik ilusi ini. Namun, semakin keras ia mencoba, semakin kuat ilusi itu menguasainya. Ia mulai meragukan kenyataan, bertanya-tanya apakah semua yang ia lihat hanyalah cerminan dari pikirannya sendiri yang kacau.

Musik itu berhenti tiba-tiba, menarik Dimas kembali ke bilik kecil di HTV Music. Nafasnya terengah-engah, dan ia merasa seolah baru saja kembali dari perjalanan panjang. Ia menatap piringan hitam di depannya, seakan mencari jawaban di dalam alunan musik yang baru saja didengarnya.

Pak Arman muncul di pintu bilik, menatap Dimas dengan tatapan penuh pengertian. "Bagaimana, Pak Dimas? Apakah Anda menemukan sesuatu?"

Dimas menggeleng, bingung harus menjawab apa. "Saya tidak tahu, Pak Arman. Rasanya seperti... semuanya tidak nyata."

Pak Arman tertawa kecil, "Kadang-kadang yang tidak nyata justru yang paling berarti, bukan?"

Dimas terdiam, merenungkan kata-kata itu. Ia bangkit berdiri, meninggalkan piringan hitam itu di pemutar. "Saya harus pergi, Pak Arman. Terima kasih untuk malam ini."

Saat Dimas melangkah keluar dari toko, angin malam kembali menyambutnya, membawa serta aroma samar bunga melati dari taman kota. Di tengah keramaian yang tak pernah tidur ini, Dimas tahu bahwa ia harus menemukan cara untuk membedakan antara ilusi dan kenyataan. Namun, bagaimana caranya? Itu adalah pertanyaan yang terus menggantung di pikirannya, menantang logikanya yang selama ini ia yakini.

Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar, menambah keheningan malam yang penuh teka-teki. Dimas tahu, apa pun yang menunggunya di luar sana, itu adalah penemuan yang harus ia hadapi dengan kepala tegak. Dan di dalam benaknya, senandung musik dari HTV Music masih mengalun, mengiringi setiap langkahnya menuju malam yang penuh misteri.

Chapter

02

Pertarungan Batin

Dimas melangkah menyusuri trotoar yang dipenuhi cahaya neon dari papan iklan di atasnya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah memerlukan usaha ekstra untuk bergerak maju. Ia mencoba memusatkan pikirannya, namun justru semakin terjebak dalam kerumitan benaknya sendiri. Suara sirene yang tadi terdengar samar kini semakin dekat, memekakkan telinga di tengah keramaian kota yang tak pernah tidur.

Di persimpangan jalan, Dimas berhenti sejenak. Ia menatap ke arah jalan kecil yang tertutup bayangan malam, seperti sebuah portal menuju dunia lain. Di dalam hatinya, ada dorongan kuat untuk berbelok ke arah itu, meninggalkan segala hal yang dikenalnya. Namun, logikanya dengan cepat menahan langkahnya. "Itu hanya ilusi," bisiknya pada diri sendiri. Namun, tak bisa dipungkiri, dorongan itu begitu kuat, hampir tidak bisa ia abaikan.

Dimas melanjutkan perjalanannya, kali ini menuju taman kota. Tempat itu adalah satu-satunya yang bisa memberikan sedikit ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota futuristik ini. Setibanya di taman, ia menemukan bangku kosong di bawah pohon tua. Dimas duduk, membiarkan pikirannya melayang kembali ke percakapannya dengan Pak Arman.

"Kadang-kadang yang tidak nyata justru yang paling berarti, bukan?" kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Apa maksudnya? Apakah hidupnya selama ini hanyalah ilusi? Bagaimana mungkin semua yang selama ini ia percayai bisa diragukan hanya dengan satu kalimat?

Pikiran Dimas berkelana ke masa lalu, ke saat-saat ketika ia merasa paling hidup. Musik yang mengalun dari HTV Music terus bergema di benaknya, seolah menjadi soundtrack dari perjalanan hidupnya. Musik itu, meskipun tidak nyata, memiliki kekuatan menenangkan yang tidak bisa ia jelaskan. Ada sesuatu dalam harmoni dan melodi yang membangkitkan sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terpendam.

Di tengah renungannya, seorang wanita duduk di bangku sebelahnya. Ia tampak seumur dengannya, dengan mata yang memancarkan kebijaksanaan yang mendalam. "Malam yang tenang, bukan?" sapanya lembut.

Dimas menoleh, sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu. "Ya, cukup tenang," jawabnya singkat, kembali menatap ke depan.

Wanita itu tersenyum, seolah mengerti apa yang sedang Dimas rasakan. "Kadang kita terlalu sibuk mencari makna di dunia luar, padahal semua jawaban ada di dalam diri kita sendiri."

Dimas terdiam, merenungkan kata-kata tersebut. "Anda terdengar seperti Pak Arman," ucapnya sambil tersenyum tipis.

"Oh, Pak Arman, dia selalu tahu cara menempatkan sesuatu pada tempatnya," balas wanita itu sambil tertawa pelan. "Tapi, apa yang sebenarnya Anda cari, Dimas?"

Pertanyaan itu menembus langsung ke dalam jiwanya. Ia tahu bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan, ada sesuatu tentang cara ia berbicara yang membuat Dimas merasa nyaman untuk membuka diri. "Saya... saya tidak yakin. Rasanya seperti saya kehilangan diri saya sendiri."

Wanita itu menatapnya penuh pengertian. "Mungkin yang Anda butuhkan adalah memercayai intuisi Anda sendiri, bukan hanya logika."

Dimas terkejut dengan saran itu. Selama ini, ia selalu mengandalkan logika dan rasionalitas untuk memandu hidupnya. Namun, mungkin sudah saatnya ia memberi ruang bagi perasaan dan intuisi untuk berbicara.

"Terima kasih," ucap Dimas tulus. "Saya akan mencoba untuk memahaminya."

Wanita itu berdiri, siap untuk pergi. "Ingat, Dimas, tidak semua yang terlihat nyata adalah kebenaran. Kadang-kadang, musik yang kita dengar hanyalah gema dari hati kita sendiri."

Setelah wanita itu pergi, Dimas merasa sedikit lebih ringan. Ia menutup matanya, membiarkan melodi dari HTV Music mengalir bebas dalam pikirannya. Mungkin, ini adalah awal dari perjalanan baru untuk menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Namun, saat Dimas membuka matanya kembali, ia menyadari sesuatu yang aneh. Taman yang tadi dipenuhi dengan orang-orang kini tampak sepi, seolah dunia di sekitarnya telah berubah. Dimas berdiri, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi sebelum ia sempat menganalisis lebih jauh, sebuah suara lembut, namun penuh otoritas, bergema di udara.

"Dimas, waktumu hampir habis. Pilihan harus segera dibuat."

Suara itu datang dari segala arah, membuat Dimas bingung. Namun, satu hal yang ia tahu pasti, bahwa ia harus segera menentukan langkah berikutnya. Dan apapun yang menunggunya di depan, ia harus siap untuk menghadapinya. Dengan tekad baru, Dimas melangkah keluar dari taman, menuju jalan yang belum pernah ia tempuh sebelumnya, siap untuk menghadapi pertarungan batin yang sebenarnya.

Chapter

03

Kesadaran yang Terkubur

Dimas melangkah keluar dari taman dengan langkah yang mantap. Meski taman itu kini sepi, rasa aneh yang menyelimuti udara membuatnya waspada. Jalanan di hadapannya tampak berbeda, seolah setiap detil kecil yang ia ingat telah diubah oleh tangan tak terlihat. Bangunan-bangunan futuristik yang biasanya menjadi pemandangan sehari-hari tampak lebih tinggi, lebih menakutkan, dan bahkan sedikit menindas.

Angin dingin menyapu wajahnya, membawa serta aroma logam yang tajam. Di kejauhan, suara HTV Music masih terdengar samar—sebuah melodi yang entah bagaimana terasa akrab dan asing sekaligus. Dalam hatinya, Dimas merasa ada sesuatu yang penting yang harus ia ingat, sesuatu yang terkubur dalam di bawah lapisan logika dan rasionalitas yang selama ini membimbing hidupnya.

"Pilihan harus segera dibuat," suara lembut namun tegas itu kembali bergema di benaknya. Dimas berhenti sejenak, menatap ke langit yang kelabu. Apa sebenarnya yang harus ia pilih? Dan mengapa waktu terasa begitu mendesak?

Langkahnya membawanya ke sebuah persimpangan jalan yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan cepat, wajah-wajah mereka tampak buram, seolah-olah mereka hanyalah bayangan dari kehidupan nyata. Dimas merasakan dadanya sesak, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia harus menemukan jawaban, dan cepat.

Di tengah keramaian, matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Seorang pria tua duduk di pinggir jalan, mengenakan jas panjang yang sudah usang. Rambutnya putih dan wajahnya penuh keriput, namun matanya memancarkan kebijaksanaan yang dalam. Dimas merasa tertarik mendekatinya, seolah ada magnet yang menariknya.

"Saya sudah menunggumu, Dimas," kata pria tua itu dengan suara parau namun penuh kehangatan. "Apa yang kau cari tidak ada di luar sana, melainkan di dalam dirimu sendiri."

Dimas mengerutkan keningnya, merasa bingung namun tertarik. "Apa maksud Anda? Saya bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya saya cari."

Pria tua itu tersenyum tipis, senyuman yang mengandung pengetahuan yang hanya bisa datang dari pengalaman panjang. "Kesadaran yang terkubur. Itu yang harus kau temukan. Dalam diri setiap manusia, ada bagian yang sering kali kita abaikan, suara hati yang kita bungkam dengan logika dan rasionalitas."

Kata-kata itu menggema di pikiran Dimas. Kesadaran yang terkubur. Apakah mungkin selama ini ia telah mengabaikan bagian dari dirinya yang paling penting? Sesuatu yang lebih dari sekadar logika dan penalaran?

"Tapi bagaimana saya bisa menemukannya?" tanya Dimas, suaranya sedikit bergetar.

"Mulailah dengan mendengarkan," jawab pria tua itu sambil menatap dalam ke mata Dimas. "Dengar musik dari HTV, bukan hanya dengan telingamu, tetapi dengan hatimu. Biarkan melodi itu menuntunmu ke dalam, ke tempat di mana kebenaranmu yang sebenarnya berada."

Dimas menelan ludah, merasa sedikit ragu namun juga bersemangat. Ia menutup matanya sejenak, mencoba fokus pada melodi yang mengalun lembut di udara. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang berbeda—sebuah kehangatan yang menyebar dari dalam, sebuah perasaan yang selama ini mungkin telah ia abaikan.

Namun, ketika Dimas membuka matanya kembali, pria tua itu sudah tidak ada. Hanya sisa-sisa kehadirannya yang tertinggal, seperti kenangan yang samar. Dimas merasakan detik-detik berlalu dengan cepat, seolah waktu sedang mengejarnya. Ia tahu bahwa ia harus bergerak cepat, bahwa pilihan harus segera dibuat.

Dengan tekad yang baru, Dimas melanjutkan perjalanannya. Setiap langkah membawanya lebih dekat ke kebenaran yang selama ini tersembunyi. Namun, di balik setiap tikungan dan jalan yang ia tempuh, ada sesuatu yang menunggu—sebuah rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Di kejauhan, suara HTV Music semakin jelas, memanggilnya untuk mengikuti melodi yang tak terputus. Dimas tahu, meski jalan di depannya penuh dengan ketidakpastian, ia harus terus maju. Sebab, di antara suara-suara yang menggema di dalam, mungkin ada jawaban yang selama ini ia cari.

Dan saat itu juga, Dimas menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar mencari kebenaran dunia luar, tetapi menemukan dirinya yang sebenarnya. Sebuah kesadaran yang terkubur, menunggu untuk ditemukan dan dihidupkan kembali. Dengan langkah mantap, ia melangkah menuju masa depan yang belum terungkap, siap untuk menghadapi setiap tantangan yang datang.

Namun, jauh di dalam kegelapan, sebuah bahaya yang tak terlihat mulai bergerak, mengintai setiap langkahnya. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar ilusi atau melodi. Sesuatu yang akan menguji batas dari kesadaran yang selama ini ia kira telah ia kenal.

Cast of Characters

Dimas

Dimas

Antagonist

Dimas adalah seseorang yang elegan yang berusaha selalu berpikir logika

Reader Comments

3 readers

Sign in or create an account to leave a comment.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

The End

HTV Music

by heri setiawan gurgurem

1,878 words · 3 chapters · 1 characters

Made with StoryMaker