Isekai
by
frendy romadhon
Hitsugaya, seorang remaja berusia 15 tahun, terlempar ke dunia lain di mana ia harus mengungkap kekuatan tersembunyi dari tato naganya untuk menghadapi ancaman dari kerajaan yang ternyata adalah musuh...
Contents
1,539 words · 3 chapters · 1 characters
Chapter
01
Awal Perjalanan
"Di mana aku?" gumamnya pelan, sambil berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum tiba di tempat ini. Semalam, dia hanya seorang remaja biasa yang pulang dari sekolah, menggenggam erat tasnya yang penuh buku. Tapi sekarang, semuanya berubah. Ia merasakan sesuatu yang hangat di punggung telapak tangan kanannya. Ia menengok dan melihat tato naganya bercahaya samar.
"Apa maksud semua ini?" Hitsugaya bergumam, merasa bingung dan sedikit takut. Sebuah suara lembut namun tegas menyahut dari belakangnya. "Itu adalah tanda dari takdirmu."
Hitsugaya terkejut dan berbalik, melihat seorang wanita tua dengan rambut perak dan jubah biru gelap berdiri di sana. Matanya yang tajam menatap Hitsugaya dengan penuh arti.
"Siapa kau?" tanya Hitsugaya, berusaha terdengar berani meskipun hatinya berdegup kencang.
"Aku adalah penjaga gerbang antara dunia," jawab wanita tua itu. "Namaku Nenek Yuna. Kau berada di tanah Aethria, sebuah dunia yang paralel dengan duniamu. Kau dipanggil ke sini karena tato naga itu—itu adalah kunci kekuatan besar yang sudah lama hilang."
Hitsugaya menatap tangan kanannya lagi, merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah kulitnya. "Kekuatan besar? Aku tidak mengerti..."
Nenek Yuna tersenyum lembut. "Kau akan memahaminya seiring waktu. Tapi pertama-tama, kau harus bertahan hidup di sini. Ada ancaman besar dari kerajaan yang berusaha menguasai seluruh Aethria. Dan kau, dengan kekuatan tato nagamu, mungkin satu-satunya yang bisa menghentikan mereka."
Hitsugaya menelan ludah, mencoba mencerna semua informasi ini. "Bagaimana aku bisa melakukan itu? Aku hanya seorang pelajar biasa."
"Kau lebih dari sekadar pelajar, Hitsugaya," kata Nenek Yuna sambil menepuk bahu Hitsugaya. "Jangan khawatir, kau tidak sendirian. Ada orang yang akan membantumu di perjalanan ini."
Sementara Nenek Yuna berbicara, Hitsugaya melihat bayangan seseorang mendekat dari kejauhan. Seorang pemuda dengan rambut cokelat dan pakaian petualang tampak berlari ke arah mereka.
"Itu Ryo," jelas Nenek Yuna. "Dia akan menjadi pemandu dan pelindungmu."
Ryo tiba dengan napas terengah-engah, tetapi senyumnya lebar dan ramah. "Hei! Kau pasti Hitsugaya, kan? Senang bertemu denganmu! Mari kita mulai petualangan ini."
Melihat semangat Ryo yang menular, Hitsugaya merasa sedikit lega. Meski banyak yang tidak ia mengerti, setidaknya ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Bersama-sama, mereka mulai berjalan menuju hutan di depan, tempat di mana perjalanan Hitsugaya yang sebenarnya dimulai.
Namun, sebelum mereka sampai ke perbatasan hutan, Ryo berhenti mendadak dan menatap Hitsugaya dengan serius. "Ada sesuatu yang harus kau tahu," katanya, wajahnya berubah serius. "Kakakmu... dia ada di sini, di Aethria. Dan dia adalah pemimpin pemberontak melawan kerajaan."
Hitsugaya terkejut, hatinya berdebar kencang mendengar kabar tak terduga itu. "Kakakku? Tapi... dia sudah lama hilang..."
"Benar," kata Ryo, "dan dia menunggumu. Kau harus menemukannya."
Dengan perasaan campur aduk antara kebingungan, harapan, dan tekad, Hitsugaya mengangguk. Ia tahu bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar tentang menemukan kekuatan tato naganya. Ini juga tentang menemukan keluarganya yang hilang. Dan itulah yang membuatnya melangkah ke depan dengan semangat baru.
Chapter
02
Kebenaran Tersembunyi
"Jadi, bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Ryo sambil melangkah dengan hati-hati di atas akar pohon yang menjalar.
Hitsugaya menghela napas. "Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya ingat terbangun di tempat ini setelah cahaya terang menyelimutiku. Dan tiba-tiba, tato naga ini..." Hitsugaya mengangkat tangannya yang bertato, memperlihatkannya kepada Ryo. "...mulai bersinar."
Ryo mengangguk, tampak berpikir. "Kekuatan dari tato itu pasti sangat penting. Banyak yang percaya bahwa tato naga adalah kunci untuk menggulingkan kerajaan yang korup."
"Mengapa kerajaan begitu jahat? Apa yang mereka lakukan hingga banyak orang memberontak?" Hitsugaya penasaran, ingin memahami lebih jauh tentang dunia barunya ini.
"Kerajaan telah menindas rakyat selama bertahun-tahun. Mereka mengambil sumber daya dari desa-desa, memperbudak penduduk, dan memerintah dengan tangan besi," jelas Ryo dengan suara penuh emosi. "Itulah sebabnya pemberontakan ini ada. Orang-orang seperti kakakmu berjuang untuk kebebasan dan keadilan."
Mengetahui bahwa kakaknya terlibat dalam sesuatu yang begitu besar dan berarti membuat Hitsugaya merasa bangga, namun juga cemas. Bagaimana jika ia tidak bisa menemukannya? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika kakaknya tidak mau menerimanya?
Mereka terus berjalan, hingga akhirnya tiba di sebuah sungai kecil yang mengalir dengan tenang. Ryo berhenti sejenak untuk minum, sementara Hitsugaya duduk di atas batu besar, merenungkan situasinya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ryo sambil mengisi botol airnya.
"Aku hanya bingung," jawab Hitsugaya jujur. "Aku ingin menemukan kakakku, tapi aku juga harus memahami kekuatan ini. Rasanya seperti beban yang sangat berat."
Ryo tersenyum lembut. "Kau tidak sendirian, Hitsugaya. Banyak dari kami yang juga memiliki beban berat. Tapi kita saling mendukung. Dan kau, kau lebih kuat dari yang kau kira."
Mendengar kata-kata Ryo, Hitsugaya merasa sedikit lega. Namun, sebelum ia bisa merespon, suara gemerisik terdengar dari semak-semak di seberang sungai. Tiba-tiba, sekelompok tentara kerajaan muncul, bersenjata lengkap dan wajah mereka menunjukkan niat yang tidak bersahabat.
"Awas, Hitsugaya!" seru Ryo, menarik pedangnya.
Hitsugaya segera berdiri dan mengeluarkan pedangnya sendiri, meski hatinya berdebar kencang. Ini adalah pertama kalinya ia akan menghadapi bahaya yang nyata. Tentara-tentara itu mendekat, memandang mereka dengan tatapan meremehkan.
"Kalian berdua, menyerahlah!" teriak salah satu tentara, suaranya tegas dan penuh ancaman. "Kerajaan tidak mengizinkan pemberontak berkeliaran."
Ryo menatap Hitsugaya dengan penuh makna. "Kita harus melawan atau lari. Pilihannya ada padamu."
Hitsugaya menggenggam pedangnya lebih erat, merasakan energi dari tato naganya yang mulai mengalir. Ia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk membuktikan dirinya. "Kita lawan," katanya dengan suara mantap.
Dengan keberanian yang baru ditemukan, Hitsugaya dan Ryo bersiap menghadapi musuh mereka. Di tengah hutan yang sunyi, dengan hanya suara aliran sungai yang mengiringi, mereka tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang yang penuh tantangan. Namun, di balik semua ketidakpastian, Hitsugaya merasa yakin bahwa kebenaran tentang dirinya dan kakaknya akan segera terungkap.
Dan di situlah, di tepi sungai yang tenang, petualangan mereka benar-benar dimulai.
Chapter
03
Pertarungan Akhir
Ryo melirik Hitsugaya, matanya penuh tekad. "Ingat latihan kita. Fokus dan biarkan tato itu membimbingmu."
Hitsugaya mengangguk, merasakan denyutan energi dari tato naganya yang seolah hidup. Seluruh tubuhnya dipenuhi keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengangkat pedangnya, siap menghadapi serangan yang akan datang.
Salah satu tentara, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajahnya, maju pertama. Dia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah Hitsugaya. Dengan gesit, Hitsugaya menangkis serangan itu, suara pedang beradu bergema di udara.
Pertarungan pecah dengan cepat. Ryo bergerak dengan lincah, menghadapi dua tentara sekaligus dengan keahlian yang mengesankan. Sementara itu, Hitsugaya merasakan aliran energi dari tato naganya semakin kuat seiring dengan ketegangan yang meningkat. Dia merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan fisik—seolah-olah ada kekuatan magis yang mengalir dalam dirinya.
"Hitsugaya, hati-hati!" teriak Ryo ketika salah satu tentara mencoba menyerang dari belakang.
Hitsugaya berbalik, mengayunkan pedangnya dengan cepat. Tato naganya bersinar terang, seolah-olah merespons ancaman tersebut dengan kekuatan yang luar biasa. Dengan satu tebasan, dia berhasil melumpuhkan lawannya, membuat tentara itu jatuh ke tanah.
Meski begitu, jumlah tentara terlalu banyak. Hitsugaya dan Ryo terdesak, mundur ke tepi sungai. Ryo terengah-engah, wajahnya penuh keringat namun tetap menunjukkan semangat pantang menyerah.
"Kita harus menemukan cara untuk keluar dari sini," kata Ryo sambil menangkis serangan lain.
Hitsugaya mengangguk, matanya mencari jalan keluar. Tiba-tiba, dia melihat sebuah celah di antara pepohonan di seberang sungai. "Di sana! Kita bisa keluar lewat sana!"
Ryo melihat ke arah yang ditunjukkan Hitsugaya dan mengangguk cepat. "Baik, kita harus bertahan sedikit lagi."
Dengan serangan yang semakin gencar, Hitsugaya dan Ryo bertarung sekuat tenaga sambil bergerak mundur menuju celah tersebut. Namun, sebelum mereka sempat mencapai tujuan, suara gemuruh terdengar dari kejauhan, membuat mereka dan tentara-tentara itu terhenti sejenak.
Dari balik pepohonan, muncul sosok seorang pria bertopeng dengan jubah hitam yang berkibar. Mata Hitsugaya melebar saat mengenali sosok itu—kakaknya, sosok yang lama ia cari.
"Berhenti!" seru kakaknya, suaranya dalam dan berwibawa. Para tentara tampak ragu, sebagian besar mundur dengan ketakutan.
"Kau," Hitsugaya berbisik, perasaannya campur aduk antara kebahagiaan dan kebingungan. "Kakak..."
Sebelum Hitsugaya sempat mengatakan lebih banyak, kakaknya menatapnya dengan intens, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. "Ini belum berakhir, Hitsugaya. Kita akan bicara setelah ini."
Dengan keberanian yang baru ditemukan, Hitsugaya dan Ryo memanfaatkan kebingungan di pihak lawan untuk melarikan diri melewati celah di pepohonan. Mereka berlari sekuat tenaga, meninggalkan tentara-tentara yang masih terperangah di belakang.
Saat mereka berhenti untuk mengambil napas di tempat yang aman, Hitsugaya menatap Ryo dengan penuh rasa syukur. "Kita berhasil, tapi... ada banyak hal yang harus aku ketahui."
Ryo mengangguk, menepuk bahu Hitsugaya. "Dan kita akan mencari tahu bersama."
Di balik rasa lelah dan berbagai pertanyaan yang membombardir pikirannya, Hitsugaya merasakan semangat yang baru. Pertarungan mungkin telah usai, tetapi petualangan dan pencarian jati diri yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan dengan kakaknya yang kini kembali dalam hidupnya, Hitsugaya tahu bahwa babak baru dari perjalanannya akan segera terbuka. Namun, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kakaknya? Apa rahasia yang menunggu untuk diungkap?
Dengan mata penuh tekad, Hitsugaya bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang selanjutnya.
Cast of Characters
Hitsugaya
Protagonistlaki-laki berusia 15 tahun, rambut hitam panjang terikat, kulit kuning langsat, memiliki tato naga di punggung telapak tangan kanannya, tidak berotot, membawa pedang
Reader Comments
2 readers
Sign in or create an account to leave a comment.
No comments yet. Be the first to share your thoughts!
The End
Isekai
by frendy romadhon
1,539 words · 3 chapters · 1 characters